Siapakah Pencetus Budaya Makanan Jalanan ?

Siapakah Pencetus Budaya Makanan Jalanan ?

Singapura terus melakukan upaya – upaya kepada pihak Persatuan Bangsa – Bangsa ( PBB ) mengenai pengakuan budaya makanan jalanan. Hal ini memicu kemarahan dari pihak negara tetangga mereka, yaitu Malaysia.

Negara yang dikenal dengan sebutan negeri kota tersebut memang memiliki jumlah warung makanan jalanan yang dijuluki “ Hawkers “ oleh para penduduk setempat. Kedai yang berada di pinggiran jalan – jalan ini memang menyediakan berbagai macam pilihan menu makanan yang beragam.

Berbagai menu yang ditawarkan yaitu berupa macam-macam olahan nasi, me, daging ayam, dan berbagai menu lainnya dengan harga yang terbilang murah. Bahkan banyak pedagang kaki lima yang mendapatkan penghargaan dari Michelin. Padahal seperti yang diketahui, Michelin hanya memberikan penghargaan penghargaan kepada restoran restoran ternama tertentu saja.

Perdana menteri Singapura mengatakan bahwa negeri tersebut akan daftarkan budaya kuliner pinggiran jalan ini sebagai salah satu warisan budaya yang diberikan oleh UNESCO. Dirinya juga memberikan gambaran mengenai pusat pusat jajanan kuliner sebagai salah satu ruang makan bersama yang akan menjadi bagian penting dan juga lambang untuk menunjukkan identitas dari negara Singapura.

Tetapi langkah yang akan diambil oleh Singapura ini memicu kemarahan dari negara Malaysia. Malaysia mengatakan bahwa budaya makanan jalanan milik negara nya jauh lebih lengkap dibandingkan dengan yang ada Tim Singapura. Bahkan salah satu Koki yang berada di Malaysia pun mengatakan bahwa apa yang dilakukan Singapura merupakan salah satu tindakan yang tidak masuk akal. Dikutip dari Chef Wan, dirinya mengatakan bahwa budaya makanan jalanan bukan hanya milik Singapura saja. Maka upaya yang diminta Singapura menjadi salah satu upaya yang dianggap tidak masuk di akal oleh dirinya. Bahkan ada pula salah satu juru masak yang berasal dari Malaysia juga mengatakan bahwa Malaysia merupakan surga dari makanan jalanan. Menurutnya, Malaysia yang seharusnya mendapatkan pengakuan dari persatuan bangsa bangsa atau PBB ini. Dirinya juga mengatakan bahwa banyak sekali masyarakat Singapura yang datang ke negara Malaysia untuk mencoba jajanan jalanan di Malaysia.

Kemarahan Malaysia ini tidak diambil pusing oleh Singapura. Singapura mengatakan bahwa langkah yang mereka ambil bukan hanya mengenai masalah makanan saja, namun mengenai warisan budaya makanan jalanan. Budaya ini memberikan ikatan yang kuat kepada masyarakat dan juga mendukung kegiatan industri dan juga mendapatkan dukungan dari pemerintah. Hal yang akan ditekankan di sini adalah mengenai komunitasnya, bukan hanya masakannya.

Memang telah diketahui bahwa hubungan kedua negara tersebut kurang baik semenjak Singapura memilih untuk memerdekakan dirinya dan melepaskan diri dari Malaysia sejak tahun 1000 SMA 165 lalu. Ditambah munculnya persoalan tentang makanan jalanan ini membuat hubungan keduanya semakin panas.

Rencananya Singapura akan melakukan pendaftaran diri ke pihak UNESCO pada Maret 2019 dan mengharapkan hasil pertemuannya sudah dapat dipublikasikan pada tahun 2020 mendatang.

Lihat juga informasi menarik lainnya : Jajanan dan makanan SIngapura

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *